Pak Rahmat manggut-manggut mendengar perkataan Andini.Cuaca malam itu tetap hujan deras dan dingin udara terus menusuk tulang, Pak Rahmat mengerti jika Andini khawatir sebab ia masih perawan, namun tekadnya sudah bulat bahwa malam itu Andini harus bisa ia gauli.Dalam kebisuan sikap Andini saat itu, Pak Rahmat kembali meraih tangan Andini dan menciumnya, Andini diam membisu, lalu Pak Rahmat memeluk Andini dan tidak ada penolakan dari Andini, Rupanya Andini saat tadi telah bangkit birahinya namun karena ingat akan statusnya maka ia menolak Pak Rahmat. Bokepindo “Nanti juga hilang sakitnya buk…” terangnya lagi.Sekali hentak maka seluruh penisnya masuk dan ia maju mundurkan. Kemudian ia ulangi memasukan penisnya. Perjalanan dari kotanya memakan waktu selama 1 hari perjalanan ditambah jalan yang amat rusak dan setapak.




















