Sumber Alam. Bokep jilbab Jari tengahku kemudian mengelus lipatan basah itu. Kurasa dia juga begitu. Aku sedikit membuka mataku. Tempat itu terasa lebih basah daripada sebelumnya. Pelan, tapi sedikit menekan. Aku duduk di sampingnya mas ini aja.”Whatever. Sedikit bergelombang. Tapi bukan itu alasannya. Dia kemudian menahan tanganku. Atau merah. Menciumnya sebentar, kiri dan kanan, dan kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Telaten sekali dia. Dia bangkit, kemudian tersenyum kepadaku. Aku sangat menghayati momen itu. Hari itu hari terakhirku menjadi bujangan. Aku merasakan bibir mungilnya menyentuh kepala “adikku”. Oh tidak. Kulihat tebaran warna hijau ditimpali air hujan yang begitu deras di sebelah kiri jalan tol. Aku merasa berterimakasih padanya.“Oiya, monggo monggo,” sahutku.Mereka turun dari bus. Dia berulangkali menggerakkan tubuhnya, seolah menikmati betul elusan tanganku di pahanya. Tiga kali. Aku segera menutup mataku, pura-pura tidur. Dan itu membuatku melayang.Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. Sehingga posisi saat itu,




















