Kamu… mengerti?” Aku mengangguk.Denyut jantungku makin cepat. Tdk ada lagi batasan. Bokepindo Tapi aku tersenyum lebar, dengan mata basah, aku berbisik di telinganya,“Kak Edo… saya kini milikmu.”
“Sayaannnggg….” desahan berat itu menggetarkan jiwaku. Aku menundukkan wajahku. Kak Edo belum kenal saya sedalamnya. Saya mengerti kalau nanti Kakak harus pergi. Jika aku tdk menjadikannya tuan, maka… maka hatiku akan sakit. Mungkin waktunya hanya semenit, tapi terasanya lama sekali, bergelombang, sesuatu yg tdk pernah kualami dalam hidup. Masih merasa seperti bermimpi, yg kalau diceritakan maka akan jadi cerita cabul esek esek saru. Aku masih megap-megap, kehabisan nafas. Menancap. Matahari sudah terbit di balik awan mendung ketika aku memasuki kamarnya. Menarik. Aku masih bersimpuh di lantai. Kak Edo dengan senang mengusap-usap vaginaku yg kini jadi licin.“Hehehe…. Rasanya asin gurih, penis itu terasa lembut kenyal di mulutku.




















