Mulai saat itu aku menyukai Pendekar Mata
Keranjang dan sejenisnya. Tiba-tiba terdengar suara sepeda yang disandarkan ke dinding. Bokep hot Kak Tina menatapku. Dapat kulihat
bulu-bulu yang tumbuh lebat di sana. Otakku sudah tak mampu
lagi membaca. “Emangnya..?” tanyaku heran. Tekanan dada Kak Tina, beradu dengan tekanan punggungku. Membaca halaman
itu. “Bangun! Bukan, bukan aku yang melakukannya. Aku tak berani
bertanya kepadanya. Erangannya berubah menjadi jerit tertahan. Aku segera
pulang. Mengeluarkan sapi dan menambatkannya di kebun
belakang rumah, lalu kemudian mengisi bak mandi. Aku yang masih bocah terus membacanya. Aku menutup bagian depan celanaku yang basah dengan tas sekolahku. Terkadang mengelusnya,
terkadang mengusap sampai ke pangkal pahaku. Aku
masih terus mengintip, sampai akhirnya Kak Tina tampak terlonjak-lonjak
dari tempat tidur. Aku tak berani
bertanya kepadanya. Degh! Sana urus sapi”, Kak Tina menepuk bahuku sebelum dia bilang, “Astaga…, kamu ngompol ya, Sapto?”. Tapi aku cukup puas.














