Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Bokep kataku.“Iya itu”Ya ampun, aq membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas tempat tidur yg putih. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekedar untuk dapat tempat duduk.“Makasih” ujarnya ringan.Aq sebetulnya ingin ada sesuatu yg bisa diomongkan lagi, sehingga tdk perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yg terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tdk suka angin kencang-kencang. Ke bawah lagi: Turun. Tetapi berlari. Oh.., aq hanya dapat menunduk, melihat kakinya yg bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Tapi tdk apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aq paling anti masuk salon. Tdk terlalu ayu. Mobil melaju. Tdk akan hadir kesempatan ketiga. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yg kali ini karena mendung tdk lagi ada keringat di lehernya.




















