Bedanya, mereka bukan lagi mengagumi ketampananku, melainkan sedang menertawakanku.“Aduh, telingaku sakit, Nit.” protesku sambil berusaha melepaskan tangannya yang masih saja menjewerku.“Biarin, biar sekalian telinganya copot!” sahut Nita tanpa mempedulikan rintihan dan ringisanku.Emmmm…. Bokep indo “Udah tahu aku takut dengan hal begituan, masih aja di bercandain kayak gitu.”“Iya-iya maaf. Ngantuk juga ya lama-lama, asataga sudah habis tiga batang rokok nih anak belum selesai juga mandinya. Tuk… hallo kepala ada isinya gak? A…A…Akkk…” aku mulai menyodorkan sendok yang sudah berisi nasi goreng lalu memintanya membuka mulut seperti layaknya seorang Ibu yang mau menyuapi anaknya makan.“Nyam… Nyam… Nyam…”“Dasar manja, sudah gede juga masih aja disuapin.” ocehku.“Biarin… Abisnya kamu jahat, aku dibikin nangis. Que sera, sera whatever will be, will be (apapun yang kan terjadi, terjadilah).”“Bismillah…” doaku saat membuka pintu kamar mandi.Ceklek! Mimpi jorok ya?” serunya dengan wajah tak bersalah.“Kok gak sekalian kamu siram aku pakai bensin terus kamu bakar biar aku gak bangun selamanya.” ucapku




















